Proyek Lentera Sahaja PKBI DIY mempunyai concern yang tinggi terhadap diseminasi informasi kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS serta perubahan perilaku seksual yang lebih sehat untuk remaja. Satu hal membedakan PKBI dengan kebanyakan LSM lain di Indonesia adalah : sampai sekarang Lentera Sahaja PKBI DIY masih konsisten untuk tetap mempertahankan “Relawan” sebagai ujung tombak pelaksanaan programnya.
Relawan adalah Social Change Agent yang paling efektif untuk mensosialisasikan informasi kesehatan reproduksi kepada masyarakat baik sebagai sebuah informasi maupun sebagai sebuah nilai-nilai yang menyertainya seperti kesetaraan gender, open mind, diversity dan lain-lain.
Setiap tahun PKBI DIY mengadakan rekruitmen untuk calon – calon relawan baru. Pada tahun 2000, Mahasiswa yang mengajukan diri menjadi relawan sekitar 50 orang. Sedangkan kebutuhan untuk relawan pada saat itu sekitar 30 orang untuk 6 Divisi kerja : Divisi Konseling, Divisi Anak Jalanan, Divisi Gay & Waria, Divisi Remaja SMU, Divisi Media, Divisi Pekerja Rumah Tangga.
Tahap awal rekruitmen adalah pengisian formulir pendaftaran dan membuat makalah yang bertemakan : Seks Bebas, Aborsi, Prostitusi dan Homoseksual. Tahap selanjutnya adalah wawancara dan role play. Hal yang paling prinsip dalam proses rekruitmen tersebut adalah keterbukaan cara berpikir ( open Mind ) dan komitmen waktu sebagai calon relawan. Kemudian calon yang tersaring sebanyak 30 orang menjalani training dasar kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS selama 3 hari. Sebagai proses transfer informasi maka training 3 hari secara intensif dirasa cukup. Namun sebagai proses internalisasi nilai-nilai Kesetaraan Gender, Open Mind dan keberpihakan terhadap kelompok dampingan, masih diperlukan proses interaksi yang intens dengan kelompok dampingan. Sehingga proses terjun di lapangan menjadi “ training” yang paling efektif.
Paska Training, secara alamiah akan terseleksi, relawan mana yang “bertahan” dan yang “kandas” di tengah jalan. Kandasnya relawan rata-rata disebabkan oleh : lulus kuliah dan kembali ke daerah asal, ingin konsentrasi ke Skripsi atau telah mendapatkan pekerjaan. Sehingga relawan yang masih bertahan di akhir tahun biasanya sekitar 5-10 orang. Kemudian awal tahun dibuka kembali rekruitmen untuk relawan baru. Demikian seterusnya pola in and out-nya relawan di PKBI DIY.
Dalam paradigma managemen SDM modern maka relawan yang “kandas” merupakan kegagalan investasi lembaga. Awalnya terasa melelahkan dan frustasi melihat relawan datang dan pergi. Namun ketika kita kembali ke hakekat tujuan organisasi yaitu melakukan edukasi masyarakat tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS maka Relawan yang kandas sejatinya adalah agen perubahan sosial yang efektif dilingkungan keluarga, tetangga, kampus atau tempat kerjanya. Sehingga meski sudah tidak menjadi relawan keberpihakan mereka terhadap isu – isu kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS akan selalu ada dan secara sukarela mereka akan mengedukasi orang –orang terdekatnya. Akhirnya kami menyepakati bahwa setiap relawan adalah modal dasar terwujudnya sustainbility misi lembaga.
Di Lentera sahaja terdapat 2 model relawan, yaitu :
- Relawan yang berasal dari masyarakat umum. Di Lentera Sahaja relawan model ini banyak didominasi kalangan mahasiswa. Keunggulan relawan model ini, mereka memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik dalam menyerap dan mengkomunikasikan informasi kesehatan reproduksi. Mereka juga bebas dari kepentingan-kepentingan di tingkat kelompok dampingan. Sehingga membuat posisi mereka netral dan dapat diterima oleh semua kelompok dampingan. Kelemahan relawan ini adalah keterbatasan waktu dan turn over yang tinggi menyebabkan komunikasi dengan kelompok dampingan tidak intens. Motivasi mereka menjadi relawan rata-rata adalah : Mencari aktivitas sosial, sebagai bahan inspirasi dan data dalam pembuatan skripsi maupun ajang aktualisasi diri.
- Relawan yang berasal dari kelompok dampingan. Relawan model ini biasanya adalah salah satu anggota kelompok dampingan yang sering terlibat aktif disetiap aktifitas program , secara personal dekat dengan lembaga ,kemudian diangkat menjadi relawan. Dalam konteks yang lain mereka bisa disebut sebagai Peer Educator namun secara struktural mereka adalah relawan. Kelebihan relawan model ini adalah tingkat sensifitas masalah dan keberpihakan terhadap kelompok dampingan sangat tinggi sehingga dukungan dari kelompok dampingan terhadap program yang dijalankan juga tinggi. Kelemahannya : Relawan ini sangat rentan terhadap konflik kepentingan di tingkat kelompok dampingan.
Jika anda berpikiran “mengunakan” relawan lebih “hemat” dari sisi pembiayaan program maka anda salah. Memang relawan tidak digaji, hanya mendapatkan pengganti uang transport atau uang makan, tetapi jika kita cermati maka biaya untuk “me-maintanance” relawan sebenarnya sepadan dengan biaya yang kita alokasikan untuk gaji “full time outreach worker” . Kenapa demikian ? Karakter Relawan yang bersifat “ kerelaan” membuat managemen tidak bisa “memaksakan” relawan untuk meluangkan seluruh waktu, pikiran dan tenaganya untuk lembaga akhirnya Managemen harus memberikan reward yang dibutuhkan oleh relawan seperti capacity building, pengembangan diri dan memberikan ruang yang longgar untuk relawan agar bisa mengaktualisasikan dirinya di lembaga. Tingkat turn over yang tinggi juga menuntut biaya tambahan untuk proses rekruitmen dan training bagi relawan. Belum lagi dilihat dari sisi waktu program yang bertambah panjang karena proses hand over dari relawan lama ke relawan baru yang akan memunculkan extension cost.
Relawan dipilih sebagai ujung tombak program di Lentera Sahaja dikarenakan relawan memiliki keunggulan yang khas dibanding dengan full time outreach worker , yaitu :idealisme, asupan semangat baru, ide – ide baru dan usia relawan yang rata-rata masih muda. Hal ini sesuai dengan sasaran kelompok dampingan Lentera Sahaja yaitu remaja. Namun tentu saja tidak seluruh program Community Development cocok menggunakan relawan. Hal ini tergantung dari karakter program dan karakter organisasi.
Handaru Suryo Putro
* NMPCP angkatan 8, ** Pernah Menjadi relawan Lentera Sahaja –PKBI DIY dan Koordinator Program Pendidikan Seks Di SMU – Lentera Sahaja PKBI DIY, *** Mantan Office Manager AJI Indonesia
Also Published on :
http://www.fisip.ui.ac.id//pacivisui/repository/newsletter/VW9.2007_bahasa.pdf
January 15, 2008 at 5:53 am |
Wah iya, bner banget…ujung tombak program….dan bekal buat kerja di manapun hehehe….
Imong
Pernah menjadi relawan Lentera Sahaja divisi konseling…
January 15, 2008 at 6:30 am |
he he he he
April 27, 2008 at 11:37 am |
Gimana caranya jadi relawan dan apa ada batasan umur ? Sudah lama pengen tapi ga tau caranya..
Thanks
April 27, 2008 at 1:46 pm |
apa program yang dapat di sharingkan…barangkali kami dapat berpartisipasi.thank
April 28, 2008 at 1:29 am |
Bung Qen , Saya sudah tidak aktif lagi di PKBI sejak tahun 2000, tapi secara garis besar tidak ada batasan umur untuk menjadi seorang relawn , tatapi untuk beberapa hal yang sangat specific mungkin pembatasan umur diberlkakukan, contaohnya : program pendapingan untuk anak sekolah dengan mengunakan metode PPE biasanya lebih prefer kepada relawan yang maish muda , tidak terlalu jauh beda dengan kelompk sasaran agar komunikasi tidak terlalu ada “gap”. namun secara umum untuk pendapingan komunitas yang lain , seperti Gay, Waria, PSK, PRT , anak jalanan batasan umur tidak terlalu menjadi tolok ukur, yang penting menjadi seorang relawan adalah KOMITMENNYA terhadap isu dan kelompok dampingan.
April 28, 2008 at 1:32 am |
Bung Jalil, jika terkait dengan program program di PKBI BUng Jalil bisa langsung saja ke kantor PKBI DIY atau telp 0274 586 767, karena saya sudah tidak lagi di PKBI DIY . jika benar benar tertarik akan saya kenalkan dengan teman yang masih aktif di PKBI . posisi dimana bung Jalil , Jogja jugakah ? Thanks
July 10, 2008 at 7:41 am |
terkait dengan beberapa program yang sedang kami rancang, sya juga tertarik untuk mengajak beberapa teman relawan u bergabung dengan kami, tapi saya masih bingung, bagaimana caranya untuk mengajak teman2 untuk bergabung dengan kami,, nah kalo teman2 punya referensi mengenai relawan tolong dibagikan ya,,, Thank’s
February 7, 2009 at 1:33 pm |
mau donk jadi relawan….tapi ga ngerti gimana caranya…mau bantu ngasih tau ga????email gw ya…
March 17, 2009 at 2:54 am |
apakah saya boleh minta bagaimana model konseling yang dipakai di situ? kami sangat membutuhkannya. garis besarnya gak apa-apa.